Rabu, 23 April 2014

Aji Tersesat


                 Adzan Subuh telah berkumandang, hilir mudik silih berganti, semua santri dan santriwati pergi ke masjid, menyandang kitab suci, mereka yang cinta ilahi segera pergi untuk berbakti.

                Cuaca pagi itu tak sedingin cuaca kemarin. Jika kemarin hujan lebat mengguyur daerah pesantren, sekarang lain lagi. Bangun tidur, baju udah basah kayak abis direndem, padahal bukan, aer itu aer keringet. Ya. Namanya juga musim panas!

                Kalo suasana udah kayak gini, mana ada santri dan santriwati yang gak akan mandi? Paling sedikit sepuluh timbaan air sumur yang dibutuhkan untuk mandi. Tapi beda lagi dengan satu cowok ini.

                Aji, yap Aji! Mau cuaca dingin ke, panas ke, dia sih gak peduli sama aer alias gak bisa kalo mesti mandi pagi. Sentakan dan ocehan dari pak ustad pun tak pernah dia hiraukan. Sungguh! Baginya kehidupan sekarang itu penuh pemberontakan. Hidup bebas salah, hidup ketat juga salah, ya akhirnya dia berontak sendiri sama kenyataan hidupnya.

                Sebenernya Aji udah cukup lama tinggal di pesantren Darussallam. Sebagai anak tunggal yang harus berbakti kepada orang tua, Aji tak ingin mengecewakan ibunya. Saat Aji tahu dia akan dimasukkan ke pesantren, semua perasaan berkecamuk tak karuan. Mau nolak takut dosa, mau nurut tapi gak sesuai hati. Tapi tujuan ibunya itu emang gak macem-macem selain pengen anaknya sholeh dan berguna untuk keluarga.

                Tapi entah mengapa sikap Aji tak sesuai dengan visi ibunya. Saat dia hidup di dunia pesantren, semua hal yang tak layak untuk ditiru selalu menjadi kontroversi para kiyai dan ustad. “Mau apa lagi Aji selain memberontak seperti ini?” mungkin itu benak yang muncul dalam jiwanya secara terpaksa ia harus masuk pesantren.
               
                Malam yang sunyi tak mampu menghapuskan kegelisahan yang Aji rasakan. Bahkan bulan yang benar-benar menyinari pun seperti tak berarti apa-apa untuk Aji. Dia butuh pencerahan, dia tak suka dengan keterpaksaan dan keterkekangan. Di bawah pohon yang rindang, tepatnya di kursi taman yang usianya sudah puluhan tahun dan tak layak pakai, Aji mengekspresikan seluruh kepenatannya. Saat santri yang lain pergi ke masjid melaksanakan sholat Isya, dia asik sendiri dengan sebatang rokoknya yang mulai habis. Pasrah! Dia seolah-olah telah berhasil dari jeratan pesantren untuk menghadapi kiyai dan ustad. Lagian, mana ada seorang Aji masuk masjid dengerin semua tausiyah ustad dan kiyai?

                Kabur saat acara ngaji, nongkrong di waktu sholat, itu udah gak asing lagi buat Aji. Meski puluhan kali Aji terkena ocehan pak ustad dan pak kiyai, ia tak bisa menguak rasa berontaknya. Aji anak bandel! Gelar yang cocok untuk dirinya.

                “Aji, apa-apaan kamu menghisap barang tak ada gunanya seperti ini!” bu ustadzah mengacung-acungkan rokok yang dihisap Aji.
                Aji berdiri dengan raut wajah yang kecut dan dia hanya terdiam, seolah-olah dia berkata “Ini sama sekali gak ada urusannya sama lo!” tapi tak terungkapkan.

                Kesongongan Aji terhadap warga pesantren sudah tak asing lagi. Maka tak banyak santri yang berani menyapa Aji, walau sekedar tersenyum pun mereka susah untuk melakukannya. Ya, Aji memang terlihat garang!

                Sikap Aji yang pendiam, tak banyak bicara, ia hanya mampu merenungi setiap permasalahan hidupnya tanpa ada tindakan yang benar-benar menyelesaikan masalahnya.
               
                Namun di balik itu semua, Aji masih berniat untuk berbuat kebaikan. Hanya saja orang-orang sekitar yang tak pernah mengerti dan percaya akan sikapnya, mereka tak yakin bahwa Aji berniat baik seperti itu.

                Suatu hari, Aji pernah menyelinap masuk ke masjid secara diam-diam. Dia penasaran dengan mix hitam yang berdiri tegak di depan mimbar. Dengan segera ia mengambil air wudhu, kemudian datanglah seorang pria dari belakang. Dia berjalan hati-hati ketika melihat Aji yang mulai membasuh wajahnya. Seketika itu Aji masuk masjid dan melihat jam dinding, rupanya adzan Ashar sepuluh menit lagi. Sementara itu, seorang pria tadi terus melihat Aji dari belakang.

                Aji mulai berdiri, mendekatkan stand mix dengan mulutnya yang biasa digunakan muadzin untuk mengumandangkan adzan. Adzan, yap adzan! Mulut dan tangan Aji mulai bergetar saat ia akan mengeluarkan suaranya. Tiba-tiba, datanglah pria tadi dengan wajah masam dia menarik stand mix yang dipegang Aji secara kasar.
“Gak bisa, kamu gak akan bisa adzan!”
Aji kesal, tiba-tiba lidahnya kelu. Dia mencoba untuk menarik stand mix yang dipegang pria itu, namun gagal.
“Apa-apaan kamu bertingkah laku seperti ini? Kamu mau semua santri dan santriwati disini ancur karena akhlakmu?”
Namun Aji tetap diam, dia menggigit bibirnya. Seolah-olah tak percaya bahwa pria itu berkata seperti itu. Dia benci!

                Dari balik pintu masjid datanglah pak ustad.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsallam, silakan masuk pak ustad.” pria itu mengalihkan pandangannya.
Sementara itu Aji melangkahkan kakinya untuk keluar, namun pak ustad dengan cepat menghalanginya.
“Mau kemana kamu nak?”
“Biarkan saja dia keluar pak, dia hanya akan berbuat onar saja disini.” jawab pria itu kecut
Pak ustad tak menghiraukan perkataan pria itu.
“Ada apa ini nak?” tanya pak ustad pada Aji.
“Enggak pak” Aji mencoba untuk melangkahkan kakinya, namun tak bisa.
“Aji, diam kamu! Jangan dulu keluar!” ujar pak ustad.
“Firman, sebenarnya ini ada apa? Ini waktu Ashar sudah lewat tapi kenapa belum ada suara adzan?”
“Gini pak, tadi saya lihat Aji hendak adzan. Tapi saya fikir, mana mungkin dia bisa adzan? Sedangkan perilakunya biadab seperti itu, mau gimana jadinya pesantren kita pak? Daripada ancur, lebih baik saya hentikan pak.” jawabnya kecut.
“Astaghfirullah nak!” pak ustad menjaawab kesal.
“Aji, ayo kamu boleh adzan nak. Kamu pasti bisa, ayo!” pak ustad menepuk bahu Aji.
“Saya gak bisa pak, saya cuma iseng.” Aji hanya tertunduk.
“Enggak nak, kamu pasti bisa! Ayo!” pak ustad merayu Aji.
Sedangkan pria itu tetap terlihat kecut saat Aji dilerai oleh pak ustad.
“Ayo nak, langkahkan kakimu untuk mengumandangkan asma Allah.” Pak ustad terus mendorong Aji.
“Tapi pak...” Aji mengelak.
Stand mix sudah siap di depan mulut Aji, dia tinggal mengumandangkan adzan. Sedangkan di luar masjid sudah terlihat santri dan santriwati yang hendak menunaikan shalat.
“Kamu gak akan bisa, kamu hanya menghancurkan suasana saja.” Hasutan tajam pria itu mulai menggoda nafsu amarah Aji.
“Aji mulai mendekati mixnya, pita suara seolah-olah telah terbuka untuk mengumandangkan adzan. Namun yang terjadi, Aji berbalik badan dan keluar dari masjid. Dia tak sanggup, sedikit air mata keluar dari matanya. Sementara orang-orang melihatnya dengan lidah kelu. Pak ustad berteriak memanggil Aji, sementara Aji telah lari menjauh menghilangkan jejak dari orang-orang sekitar. Di dalam sana terdengar suara Firman yang mengumandangkan adzan, pria yang telah membuat Aji jatuh, jatuh dari tekadnya!

                Aji terus menelusuri jalanan sepi, dia kehilangan arah, akan kemana dia pergi? Suasana pesantren yang tak asing lagi membuat Aji rapuh, jauh dari fisiknya. Ia tak tahu harus berbuat apa, orang-orang di sekelilingnya ia anggap sama sekali tidak memedulikannya. Kemudian dia berhenti di bawah semak-semak hijau. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya dan dua botol miras yang entah ia dapatkan dari mana. Mungkin hanya barang itu yang peduli dengan dirinya. Ia bersikeras berfikir, bagaimana caranya agar bisa membalas kekesalannya terhadap Firman.

Di seberang sana terlihat dua orang ibu-ibu rumpi yang baru saja pulang dari pasar.
“Suttttt, berhenti!” Ibu Siti menghentikan langkahnya.
“Ada apa toh bu? Menghambat perjalanan saja.” Ujarnya
“Coba deh bu lihat, itu kan yang dibawah santri Darusalam. Kenapa ia harus diam di situ?” ibu Siti mempertajam pandangannya.
“Yang mana bu, saya gak lihat!” ibu Odah penasaran.
“Tuh itu bu, yang lagi ngisep rokok.” Bu Siti menunjuk Aji dari kejauhan.
“Walah iya bu bener, ini gawat bu.” desak bu Odah.
“ Kita harus segera lapor pihak pesantren bu.” Bu Siti mulai tak sabar.
“Ok!” mereka pergi melaporkan kejadian ini ke pesantren.

                Pak Ustad Ahmad  berjalan cepat mengikuti jejak dua ibu-ibu itu.
“Ibu serius Aji ada disana?” tanya Pak ustad Ahmad
“Iya pak, saya mah serius. Tadi saya liat dia sendirian disana lagi ngerokok” logat Sunda bu Siti keluar.
Sedangkan bu Odah lebih memilih pulang duluan, karena sudah ditelfon suaminya.
“Ya Allah Aji, ngapa-ngapain kamu disini ha?” geram pak ustad Ahmad.
Aji hanya mampu diam dan tersenyum kecut.
“Aji, ayo ikut saya!” pak ustad Firman menarik keras tangan Aji.

“Plak... plak... plak...!” suara tamparan pak ustad memerahi pipi Aji. Di ruangan itu, Aji terkaku. Dia terenyuh, seolah-olah ini adalah akhir hidupnya.
“Astaghfirullah ji, sudah berapa kali saya menegurmu, kamu tetap begini saja. Bapak sudah tak tahan melihat perilakumu yang semakin hari semakin jauh dari aturan Allah!” Bapak kiyai besar mulai angkat suara.
Aji tetap tertunduk, ia merenungi kesalahannya.
“Mau jadi apa kamu, jika perilakumu selalu seperti ini? Apa kami salah dengan cara mendidikmu, ji?” pak kiyai meneteskan air mata.
Aji semakin terguncang, dia tak berani berkata.
“Nak, mungkin di tempat lain kamu bisa menemukan kehidupan apa yang kamu mau. Tapi tolong, jangan tinggalkan Allah! Saya sudah tak tahan dengan perilakumu, sekarang juga saya ingin kamu pergi dari tempat ini.” Pak kiyai terlihat tegang.
“Pak..!” Aji memulai pembicaraannya
“Sudah ji, ayo ikut bapak keluar.” Pak ustad Ahmad membawa Aji keluar.
Bapak kiyai menuju ruangannya. Beliau meninggalkan Aji dan pak ustad Ahmad.

                Aji berjalan hampa keluar dari kawasan pesantren Darusalam, dia berhasil! Berhasil keluar dari pemberontakan jiwa yang selalu mengecamuk dalam jiwanya. Meskipun ada satu tekad yang tak sempat ia lakukan, membalas apa yang pernah Firman lakukan padanya. Aji terhempas, hilang tanpa arah []
 @EkaFTRN

Istana Roma

Oleh    : Eka Fitriani

Kusam, gelap, kotor, ribuan sarang laba-laba bergelantungan. Tapi hal itu bukanlah penghalang bagi penghuni rumah tersebut, sudah beberapa tahun dia hidup sebatang kara disana. Di pekarangan rumahnya terdapat sebuah pohon rambutan tinggi nan lebat. Jika waktu musimnya tiba, buah-buah itu banyak berserakan dibawah hingga busuk tak layak makan, karena tak ada seorang pun yang berani memetik rambutan itu langsung dari pohonnya. Selain itu, ada juga pohon durian yang tingginya bukan kepalang. Pohon itu terlihat risih bak bernyawa. Banyak warga yang merasakan keanehan saat melewati pekarangan rumah itu, semuanya terasa berbeda. Bulu-bulu kuduk terasa merinding bak duri kaktus di padang pasir.
Sebut saja namanya  kakek Oman. Badannya kurus tinggi, punggungnya bongkok dan kulitnya hitam. Dia hidup sendiri karena ditinggal pergi oleh anak dan istrinya. Sikapnya sangat misterius. Jika sekalinya tak ada pekerjaan penting, beliau lebih memilih berdiam seorang diri di rumah daripada harus berbaur dengan warga sekitar. Kakek Oman terlihat aneh dan cenderung bersikap pendiam, beliau hanya akan berbicara jika ada seseorang yang bertanya kepadanya. Karena tingkah lakunya itu, beliau banyak ditakuti anak-anak. Padahal dibalik itu semua, Kakek Oman memiliki sikap yang baik luar biasa, hanya saja mereka belum tahu siapa Kakek Oman yang sebenarnya. Pekerjaannya sehari-hari adalah memetik dedaunan seperti lalap juga buah-buahan dan kayu bakar yang hasilnya akan dijual ke pasar. Ketika musim panen tiba, beliau tidak sungkan-sungkan untuk membagikan hasilnya kepada warga. Bahkan Kakek Oman kerap mengikhlaskan keuntungan hasil dagangannya yang dibawa lari oleh perampok .
 Suatu malam, terdapat beberapa warga yang sedang bertugas di pos ronda. Menjadi petugas pos ronda bukan hanya duduk manis menonton TV sambil minum kopi ditemani batangan rokok, tapi petugas harus berkeliling desa secara bergantian untuk melihat keadaan warga sekitar. Menurut penelitian mereka, di malam itu terdapat kejadian yang sangat dahsyat. Kejadian ini bukan munculnya maling yang menyamarkan rupanya menjadi hantu-hantu tak elite, bukan pula pembunuhan semacam mutilasi ataupun babi nyepet yang mengejar waktunya sebelum lilin meleleh. Tapi sebuah penampakan seorang kakek tua yang duduk di teras itu, ya teras rumah Kakek Oman.
            Pada saat itu petugas ronda melihat seorang kakek tua berpakaian serba putih. Mulai dari baju putih, sarung putih dengan sorban putih yang terikat di lehernya, percis seorang kakek yang selesai beribadah di masjid pada umumnya. Di teras rumah itu beliau terlihat duduk seorang diri seraya menunduk tanpa berangguk. Yang dilihat bukanlah Kakek Oman yang berawak kurus tinggi, punggungnya bongkok dan kulitnya hitam. Tetapi yang dilihat adalah kebalikannya. Petugas ronda mengira, beliau adalah seorang tamu yang sedang menunggu pintu rumah dibuka oleh pemiliknya. Karena mereka khawatir sang pemilik rumah tidak mengetahui kedatangan tamunya, mereka hendak menghampiri kakek tua tersebut untuk membantunya memanggil sang pemilik rumah.  Saat petugas ronda melihat dari jarak dekat, ternyata yang dilihat itu nihil, yang dilihat hampa! Tidak ada apapun dan tidak ada siapapun yang duduk di teras rumah itu! Spontan setelah melihat kejadian tersebut, mereka mundur dan berlari sekencang-kencangnya hingga tak merasakan bahwa celana yang mereka pakai terasa basah dan mulai membanjiri kakinya.
            Kejadian tersebut tidak hanya muncul dalam sekali atau dua kali saja, tapi beberapa kali. Hanya saja kejadian di malam itu yang paling dahsyat. Semenjak itu, banyak warga yang mulai berkeluh kesah tentang rumah Kakek Oman. Mereka ingin membuat jalan alternatif yang jauh dari pekarangan rumah Kakek Oman. Mereka tak ingin melewatinya lagi! Apalagi ibu-ibu, mereka enggan jika setiap hari harus pergi ke pasar dengan bulak-balik melewati pekarangan itu. Tapi bagaimana bisa? Tidak ada jalan lain yang dapat dibuat, karena jalan setapak di depan pekarangan rumah Kakek Oman itulah jalan alternatif satu-satunya. Mungkin ada sungai curam yang bisa dijadikan jalan alternatif dengan cara membangun jembatan panjang, itupun tak mudah, harus membutuhkan biaya yang lebih besar lagi! Repot!
            “Kek, kakek gak takut tinggal di rumah segede itu sendirian? Kakek gak kesepian?” Tanya seorang gadis remaja yang hendak pergi mencuci pakaian ke sungai. “Kakek tidak takut. Memang apa yang terjadi jika kakek tinggal sendiri?” jawab Kakek Oman seraya membelah kayu bakarnya. “Kakek gak tahu ya, kan akhir-akhir ini banyak warga yang ketakutan saat berjalan di depan pekarangan rumah kakek. Katanya rumah kakek itu angker, banyak hantunya! Warga sekitar juga sering melihatnya.” gadis itu berusaha meyakinkan pembicaraannya. “Ah, itu hanya halusinasi mereka saja!” timbal Kakek Oman yang semakin sibuk dengan kayu bakarnya. “Tapi Kek, ini kan…” si gadis itu terus berusaha untuk meyakinkan Kakek Oman. “Maaf nak, kakek harus segera ke pasar karena sudah siang!” kakek Oman mulai menaikkan kayu bakar pada punggungnya seraya tergesa-gesa. Hm kakek, padahal aku ingin cerita banyak. Sini aku bantu!” gadis itu mendongkolkan rasa kesalnya dan mengambil kayu bakar yang jatuh dari punggung Kakek Oman.
            Banyak sekali tantangan yang dihadapi Kakek Oman. Mulai dari keluh kesah warga yang menyuruhnya untuk segera pindah dari rumah tersebut. Tapi beliau bersikeras tak ingin meninggalkan rumahnya, walau dalam keadaan apapun. Dahulu sebelum beliau hidup sebatang kara di rumahnya, sempat terjadi pertengkaran yang dahsyat dengan istri dan anaknya. Hal itu disebabkan karena istri dan anak Kakek Oman sudah tidak sanggup lagi jika harus tinggal di rumah itu, rumah yang penuh misteri dan menyeramkan. Bahkan mereka sering membujuk Kakek Oman agar segera pindah dari rumah itu. Beliau tidak mudah digiurkan oleh apapun, beliau tetap pada pendiriannya, dia tak ingin meninggalkan rumah itu. Ternyata Kakek Oman lebih memilih ditinggal oleh anak dan istrinya daripada harus meninggalkan rumah itu.
            “Ini amanat yang tidak boleh diselewengkan! Harta ini jangan sampai disalahgunakan, apalagi dibiarkan tak berpenghuni. Rumah ini warisan dari leluhur kita, Bacalah : JANGAN TINGGALKAN, JANGAN TINGGALKAN. Rasakan akibatnya jika kau meninggalkan rumah ini!”
            BYARRR!!! Seorang anak tersungkur pada ujung tembok. Seperti ada gaya elektromagnetik yang menyeretnya jauh terpental. “Aaaaawwwww” jeritan kencang semakin menjadi-jadi. BRUUKKK!!! Suara pintu terbuka meredamkan suasana. “Aldiiiiii!” jeritan seorang kakek tua terdengar risih. Dia tak peduli dengan barang di sekitarnya, dia hanya memedulikan seorang anak di depannya. “Ahahahahaha, siapa kau?” tanya anak itu dengan raut wajah yang garang. “Kamu kenapa nak? Apa yang kamu lakukan disini? Ayo cepat keluar!” kakek Oman mencobanya untuk menyeret keluar, tapi tak berhasil. Jeritan anak itu semakin menjadi-jadi, dia sepertinya dirasuki oleh makhluk-makhluk halus. “Awas, awas, awas!” anak itu berjalan mendekati Kakek Oman, dia seperti ingin menantangnya, matanya terlihat hitam, wajahnya tertunduk, badannya sayu. GUBRAK! Kakek Oman keluar dan membanting pintu ruangan itu. Beliau mencari pertolongan warga untuk menolong anak kecil itu.
Ternyata anak itu adalah Aldi, dia cucu Kakek Oman yang diam-diam mendatangi sebuah ruangan kosong di rumah tersebut tanpa sepengetahuan kakeknya. Sebelumnya dia memang sangat penasaran dengan rumah megah itu, dia ingin menyelidiki apa alasan Kakeknya tidak mau ikut pindah rumah dengan ibu dan neneknya. Dia ingin mencari jawaban itu, salah satunya dengan memasuki ruang kosong yang menjadi alasan kuat dirinya bahwa di gudang itu pasti ada sesuatu yang tersembunyi, lalu masuk ke dalamnya. Dia hanya menemukan sepucuk surat yang tadi, kusam kotor bertuliskan tinta merah dan setelah membaca surat itu dia tersungkur jauh dan kerasukan. Beberapa orang berilmu bahkan dukun pun tak mempan menolongnya. Hanya ada satu ustadz yang bisa menyembuhkan Aldi, dari sanalah beliau mengetahui seluk beluk rumah itu.
Tulisan yang ada di surat tersebut merupakan salah satu bukti bahwa rumah megah itu merupakan warisan dari leluhur Kakek Oman, tercatat pada surat itu ketika kakak dari Kakek Oman meninggal dunia dengan cara mengenaskan, menggantung diri di dapur dekat ruangan kosong setelah sholat Isya! Sungguh tak elite, tapi memang fakta. Berita itu disebabkan karena sang pelaku sudah tidak tahan lagi hidup sebatang kara disana karena ditinggal istrinya meninggal dunia, kemudian ditinggal pula oleh anaknya ke luar negeri. Sungguh malang nasib pelaku pembunuh diri itu. Seperti tak ada jalan keluar saja untuk mengakhiri kesepiannya selain bunuh diri. Iman Islam memang fondasi utama disini!
Surat tersebut merupakan alasan kuat Kakek Oman  untuk tetap tinggal di rumah itu, sekalipun hanya sendiri dia tak ingin mengecewakan amanat itu. Betapa besarnya Kakek Oman terhadap rumah itu, hingga dia merelakan kehilangan keluarga daripada harus meninggalkan wasiat itu. Rumah megah istana roma! []



 



Solidaritas Tanpa Batas!


Oleh     : Eka Fitriani
 
Hari itu, Minggu 16 Februari 2014. Pagi-pagi banget aku udah nyampe di rumah RY buat nyimpen barang. Barang apa yaaa? Apa aja deh =D Terus kita berdua langsung cus deh. Cus kemana yaaa?
            Niatnya sih mau nyuruh mereka buat nunggu kita di Halte Cipaisan, eh malah salah naik angkot. Akhirnya kita yang harus nyamperin mereka di Pendopo, hahaha =D *tertawa sinis*. Disana udah ada MIR, NA dan MA yang lagi sarapan, NR yang lagi mainin laptop, dan satu orang cowok yang belum pernah aku kenal, dia salah satu tokoh yang kocak di kisah ini. Siapa dia? Dia siapa? Kamu tahu dia siapa? Apa dia juga tahu siapa kamu? Hahaha =D yang jelas pertanyaan itu gak penting, dia salah satu tokoh yang baru gabung sama kita-kita, namanya MFT.
            Aku sih flat-flat aja gitu yaaa, nyapa mereka terus salaman *tradisi*. Tapi entah kenapa tiba-tiba perasaanku lain sejak melihat aksi mereka disana. Ada kebahagiaan tersendiri yang aku rasakan, sepertinya ini kepingan mozaik terbaru dalam hidupku.
            Aku, RY, MIR, NR, MA, NA, MFT, IR, MHS dan MAA -> Orang-orang yang lolos seleksi tahap awal Calon Pengurus FOJB 2014-2015 dari Purwakarta. Kebetulan yang ada di Pendopo itu baru ada orang-orang yang tadi aku sebutin *yang mana? Cari aja sendiri!* Disana, kita sempet nungguin yang laen juga, tapi eh akhirnya malah diharkosin pas dapet SMS dari MAA, kalo dia sama MHS udah nyampe Bandung duluan. Kenapa gak ngasih tahu dari tadi coba? *abaikan*. Satu orang lagi yang kita tunggu-tunggu, IR. Alhamdulillah gak lama kemudian dia udah nongol terus ngulurin tangannya buat salaman. Alhasil jadwal berangkat ngaret setengah jam, uh!
            Kita jalan bareng tuh menuju halte *cielah gaya* kayak biasa, suasana masih agak sedikit garing. Ini masih permulaan! Ok, nyampe deh tuh kita di halte. Nungguin bis segitu lamanya ternyata bikin BT, tapi ada bahagianya juga. Pas disitu kebodoran mereka beraksi, berhasil bikin perut sakit, ketawa gak berhenti-berhenti!
“Neng hayu badé ka Bandung?” tanya seorang kondektur yang nongol di pintu bis.
“Ohahaha, iya iya iya !” jawab MIR angguk-angguk.
Saat itu bis berhenti di depan kita, tapi sayangnya itu bukan bis yang biasa ditumpangi ke Bandung. Tapi kalo diliat-liat, di kaca spion atasnya ada tulisan ‘BANDUNG-VIA TOL CIPULARANG-PURWAKARTA-KARAWANG’ tapi eeeuuuhhh... “Kayaknya jangan naik mobil ini deh, soalnya aku belum pernah liat bis ini ke Bandung.” Aku berbisik ke telinga MIR, seolah-olah meyakinkan dia kalo misalkan naik bis itu pasti ongkosnya agak mahal, haha =D Sedangkan di atas sana amang kondektur terus merayu kita supaya naik bisnya.
“Moal mang, moal.” jawab MIR, yes! ternyata dia percaya sama aku. Kalo dia bilang kayak gitu kan otomatis anak-anak yang laen pasti gak akan naik. Maklum, MIR sesepuh diantara kita semua, hahaha =D *tertawa puas*
Eh pas amang kondektur bilang, “Hayu naék! 15 rébu dugi ka Bandung, tapi tong seueur carios, nya!”
Duh, amang kondektur  ngerayu nih. Semangat banget ekspresi kita pas denger itu. Akhirnya kita semua berubah fikiran, terus langsung cus deh naek bis.
Ini mungkin ongkos murah gara-gara liat kita pake seragam sekolah kali yaaa, hahaha =D *tertawa bahagia* Soal amanat amang kondektur itu yang “tong seueur carios!” kayaknya gak bisa aku pegang deh, soalnya udah terlanjur aku ceritain di paragraf sebelumnya, uh uh uh maafkan aku mang -_- *berharap gak ada yang baca. Lol!*
Suasana di dalem bis masih agak hening juga, soalnya kita duduk agak berjauhan gitu. Hmmm -_- *abaikan!* Di pinggir aku ada NA sama MA. Kita bertiga sibuk sendiri sama buku yang dibawa, *anak rajin, kemana-mana bawa buku* hahaha =D. Di belakang aku ada IR, RY sama MFT yang lagi curhat-curhatan gitu deh, entah curhat apaan lah yang pasti saat itu mereka udah mulai akrab. Sedangkan NR dan MIR ada di kursi depan, mereka so sweet banget duduk berduaan ngeliat alam hijau di balik jendela bis, kayak yang lagi pacaran. *wkwkwk*
Sampe di Terminal Leuwi Panjang, kita langsung nyari toilet. Biasa, efek perjalanan! Hahaha =D. Terus langsung nyari bis kota arah Dago, cus deh naik. Saat di bis, posisi duduk kita tetep sama kayak tadi, berjauhan! *alay banget yaaa, tapi kan kita gak mau terpisahkan -_-* Ada satu hal yang berhasil ngehibur kita saat bis sedang melaju, liat pengamen yang nyanyiin lagu Sunda versi ngereff ala Bondan Prakoso, bunyi liriknya: “Trangtrang koléntrang, si landak paéh nundutan....”  *ada yang tahu itu lagu siapa?* spontan kita ketawa! Hahaha =D. Mengapa kita ketawa? Soalnya itu lagu bergairah banget, berhasil ngembaliin ekspresi kita yang hampir ilang, *hihi, makasih banyak ya bapak pengamen*. Lumayan nih, bisa jadi trending topic buat ngilangin rasa jenuh :D
Gak nyangka juga, di bis kota itu kita barengan sama orang Bogor. Sama, mereka juga calon pengurus FOJB! Akhirnya, itulah permulaan kita bergabung dengan mereka sampai Balai Kota.
Suasana di Balai Kota saat itu dingin, banyak orang berlalu lalang yang tengah menikmati weekend. Dari jauh terlihat sekelompok orang yang duduk melingkar layaknya kongres.
“Assalamualaikum akang tétéh...” sapa kita yang baru dateng.
“Waalaikumsalam...” jawab mereka.
Tiba-tiba terdengarlah kalimat: “Nah, mereka adalah salah satu anggota FOJB dari Purwakarta  yang kemarin jadi panitia A3.” Ujar ketua FOJB, Kang TI J *duh, bikin GR aja nih, tapi seneng sih nama Purwakarta disebut-sebut, wkwkwk*
Kita duduk paling belakang, asalnya sih suruh ke depan tapi kitanya gak mau. *duh, serasa orang spesial gimana gitu hahaha =D* Kesan pertama liat mereka (calon pengurus FOJB) itu seneng banget. Semoga mereka bener-bener calon keluarga baru dalam hidupku, aamiin J
Motivasi-motivasi dari senior FOJB itu selalu menggugah hati, merasuk jiwa dan fikiran. Apalagi kata-kata Kang R, waw! SPEKTAKULER (y). Pas nengok ke belakang, Eh, tahu-tahunya MIR sama NR malah asik bercanda jailin aku sama RY *huh -_-* Duduk udah gak karuan, posisi udah gak bisa paten. Apalagi MIR yang udah ganti fose duduk, dimulai dari kaki dilipet, jongkok, berdiri setengah kaki, sampe selonjoran *hahaha, emang gak bisa diem tu anak* Oh iya, pas kita baru duduk di situ, di depan udah ada MHS sama MAA yang lagi duduk manis. Mereka udah stand by di Balai Kota sejak tadi *oh Tuhan, teganya mereka meninggalkan kita -_-*
Udah itu, ternyata kita dibagi kelompok buat tes interview, dan aku masuk kelompok 6. Kita dikumpulin nih, disana orang-orangnya masih pada asing (namanya juga baru -_-). Cuma ada MAA yang se-kontingen sama aku. Lumayan lah gak terlalu garing, kesananya sih udah mulai akrab sama temen dari luar Purwakarta. Dimulai dari ngomongin soal pengalaman di organisasi sampe ke curhat *abaikan!*
Kita dikasih pengarahan buat tes interview sama pembina kelompok. Kebetulan, pembina kelompok 6 itu Kang AKK sama Kang RK. Tapi cuma Kang RK udah ngenalin dirinya di depan kita semua (padahal sih aku udah kenal mereka -_-) Udah itu kita dibawa ke suatu tempat di bawah pohon yang rindang. Disana kita dibagiin nomor undian, dan taraaaa! Aku dapet no.2, berarti nomor urut interview aku kedua J Tapi ternyata,
“Kok no. 1 ada di akang ya? Coba diperiksa dulu, takut belum ada yang kebagian!” ujar Kang AKK polos.
“Enggak kok kang, kita semua dapet.” mata sama tangan jelalatan liat nomor undian yang dipegang.
“Berarti yang tes pertama interview no. urut 2 yaaa!” Kang AKK mulai ngarahin pandangannya ke kita.
Buseeettt! “Berati aku dong, hmmm -_-“ jawabku lirih.
“Ok. Silakan yang laen cari tempat dulu nungguin giliran tes.” Kang RK mulai angkat suara.
Bismillah, saat itu interview dimulai.
Sempet deg-degan juga sih pas ditanya sama mereka, apalagi pertanyaan yang mematikan. Wow! Pokoknya harus jago menguasai diri dan situasi *spektakuler hehe*. Pertanyaannya sih beda banget sama soal-soal di pelajaran sekolah *yaiyalah -_-* semua mencakup tentang organisasi, kepemimpinan, kehidupan, kepribadian, dan gak lupa juga semua tentang FOJB. Kapan FOJB itu dibentuk, oleh siapa FOJB dibentuk, hingga sejarah berdirinya FOJB semua ada di pertanyaan interview. Tapi, ada juga beberapa pertanyaan yang suer kocak banget.
Kang RK: “Efit, hmmm... Apa kelebihan yang kamu miliki?”
Kang AKK (spontang jawab): “Et Eka Fetren (mungkin dia lagi ngucapin akun Twitter aku kali, ya meskipun salah :D), dia punya banyak follower di Twitter.”
Aku: “Hahaha, enggak juga kang.” (ekspresi kaget)
Terus ada lagi nih soal tentang Purwakarta,
Kang AKK: “Efit, apa yang kamu ketahui tentang Purwakarta?”
Kang RK: “Awas, jangan bilang kalo Purwakarta Istimewa. Cari jawaban yang lain!” (duh, galak banget, hahaha -_-)
Aku: “Wah, belum apa-apa udah diancem.” (aku angkat suara)
Kang RK: “Soalnya itu yang terkenal.” (Kang AKK seolah-olah gak mau kalah)
Hahaha =D Udah dari situ aku mulai ngejelasin semua yang aku tahu tentang Purwakarta. Mulai dari kebudayaannya, kesenian, adat istiadat, dll. Ada kebanggaan tersendiri yang dirasakan saat aku bisa ngejelasin tentang Purwakarta pada mereka. Maklum, mereka masih awam. Orang mereka tinggal di Sukabumi (Kang AKK) dan Bekasi (Kang RK) *hahaha =D, abaikan!*
Adzan Dzuhur udah berkumandang, dan Alhamdulillah aku selesai interview. Yeyelalala ~ Setelah membalikkan posisi badan menuju masjid, terlihat NA dan IR yang udah teriak-teriak manggil aku sholat. Capcus deh kita ke masjid. Entah temen yang laen pada dimana -_-
Brrrr... Aer wudhu udah kerasa dingin banget. Sekujur tubuh bergetar-getar, hahaha =D. Pas masuk masjid, beuh Subhanallah kerasa banget sejuknya. Lantainya yang terbuat dari kayu jati menambah keasrian suasana masjid. Cus deh sholat Dzuhur *abaikan!*
Udah selelsai sholat, kita balik lagi ke Balai Kota. Tahu gak tahu gak? Kan kita ngelewatin jembatan penyebrangan tuh, nah waktu itu aku lagi jalan sama MIR. Tahu kan dia orangnya super gilaaaa banget gokilnya -_- *haha peace V* Masa dia udah kayak akting mau terjun dari atas ke bawah *yaiyalah*. Frustasi kali yaaa *abaikan!* “Sok aja kalo mau terjun, paling entar tinggal nunggu berita di koran.” jawabku enteng *hahaha emang mau seberat apa? Abaikan!*
Yang udah tes interview sih nyantai-nyantai aja. Kebetulan dari Purwakarta yang belum tes interview itu ada NA, RY, dll. Selebihnya, aku, MFT, NR, dan MIR yang udah selesai. Foto-foto emang udah jadi tradisi, ngelilingin Balai Kota nungguin mereka selesai interview. Dapet temen baru, pengalaman baru, kisah baru, dan baju baru tuk dipakai di hari raya *wah wkwk*. Ada nih satu orang dari Majalengka yang kocak banget kalo udah gabung sama MIR. Dia bernama AMS, jago banget buat orang ketawa. Bahkan dia sempet-sempetnya stand up comedy depan banyak orang. Kalimatnya yang masih nempel terus ngalir jadi ngakak itu: “Aku kotor, aku kotor.” *Hahaha*
Waktu udah sore, awan udah mulai gelap alias mendung, dan NR udah ngebet banget pengen maen ke ITB. Tapi apa daya? Kalo cuaca udah semendung itu *semendung hatiku, oh tidaaaakkk -_- abaikan!, niat buat maen kemana-mana bakalan gak jadi alias terhambat -_-
Bingung mau nunggu yang mana! Kasian juga sama RY yang belum sempet ngobrol sama Kang AKK (Ituloh, yang ngewawancarai aku tadi *tingting*). Kita nungguin mereka buat ber meet and greet disana *kambing conge dong? Enggak juga ah-_-*. Alhasil, Kang AKK yang rencananya mau bareng sama kita malah pergi duluan, yaudah kita langsung cus jalan ke luar gerbang. Disana raut wajah RY mulai keliatan watir banget beuh. Suer tak kewer-kewer! Kayaknya dia galau tuh *abaikan!*
Was-was banget pas sebelum ke luar gerbang tadi, aku perwakilan dari Purwakarta dapet mandat plus amanat dari senior FOJB buat pegang peserta dari Purwakarta dalam acara Festival Pelajar Se-Jawa Barat. Udah ada voucher sementara yang aku pegang. Di sepanjang perjalanan itu aku habisin waktu buat ngomongin masalah ini sama MIR (sesepuh kita, hahaha -_-) Bekerja, yaps B-E-K-E-R-J-A! Kita mulai bekerja lagi nih di organisasi, cemungutttt eaaaa ;)
Di Gramedia, kita nyari-nyari masjid buat sholat Ashar. Eh malah penuh, alhasil kita ujan-ujanan ke belakang Gramedia buat nyari masjid. Cus deh sholat Ashar. Selesai sholat, Alhamdulillah ujan udah mulai reda *Subhanallah, nikmat Allah luar biasa*
Kita balik lagi ke Gramedia, mulai deh hunting buku. Sebelumnya udah ada MAA sama MHS yang nyari-nyari kita, hahaha =D Akhirnya kita semua masuk Gramedia. Past & Curious, aku cuma beli satu novel itu. Terus dibeliin lagi satu novel sama MAA, jadi pegang dua nih *makasih yaaa MAA. Tertawa bahagia, hahaha abaikan!”
Ada kejadian yang ngagetin juga nih pas disana, no. loker penitipan tas punya RY ilang -_-, terpaksa dia harus bayar denda Rp. 10.000,- (kalo gak salah -_-) *doh, ada ada aja*
Selain itu, MFT sempet pusing liatin kita yang mondar-mandir ngelilingin tumpukan buku. “Aku pusing téh kalo liat buku sebanyak itu -_-“ timpalnya lesu. Dia pengen cepet-cepet keluar. *Hadoh, sabar yaaa deeee J*
Sekitar jam 17.30 kita keluar dari Gramedia. RY sama NA duluan cari makan,* uhhh... mereka jahat yaaa -_-*
“Mau tetep ke ITB nih?” tanyaku pada NR.
“Iyaaa ayo, tapi terserah kalian juga.” NR mengeluarkan sedikit raut mukanya yang kecewa *hahaha*
“Tapi kan udah sore, gerimis lagi. Takut gak ada bis buat pulang.” duh, RY nimbrungnya terharu banget
Fix, gak jadi maen ke ITB. Kita langsung jalan ke depan gerbang, cus nyebrang buat nyari bis kota ke Leuwi Panjang. Tapi karena udah sore, ya kita cuma bisa naek angkot. Lumayan, angkot yang ditumpangi kosong dan kita sewa sampe Leuwi Panjang. *hahaha* Seperti biasa, suasana dalam angkot mulai gokil. Seluruh keluh kesah dan gundah gulana yang dirasakan kita eksplorasikan disana. Amang sopir udah kayak mau tutup telinga aja dengerin ocehan plus candaan kita *hahaha*
“Aduh laparrrr...” titik jenuh sudah ditemukan!
Kita harus segera cari warung makan sebelum naik bis.
‘WARUNG NASI PADANG’
Kita masuk kesana, dan yang punya warungnya masih muda. Harga satu porsinya itu Rp. 15.000,- lengkap dengan lauk pauk plus sayur mayur. Tapi sayangnya porsi sebesar itu buat kita kebanyakan (kebanyakan uang) *wah?* dengan berhasilnya MIR merayu si amang buat nurunin harga Rp. 10.000,- khusus untuk kita. Yeyelalala~
Lumayan tuh, dapet berapa ribu si amang, plus pahala yang berlimpah *aamiin*. Kebetulan saat itu cuma ada aku, RY, NA, MA, MIR, MFT, NR, sama Kang IR (yang asalnya pas berangkat ke Bandung gak bareng sama kita). Sedangkan yang dua orang lagi, MAA sama MHS udah pulang duluan dijemput sopirnya *ah, kasian mereka gak ngerasain mozaik terpenting bersama kita dalam hidupnya -_-*
MIR udah mesen 8 piring, soalnya NA gak ikut makan. “Kenyang, tadi udah makan bakwan di Balai Kota.” Katanya. Tapi nasi yang dateng malah ada 10 piring alias kelebihan 2, duh mubazir *jeritku dalem ati*
“Nih, tétéh gak bakalan abis segini.” RY nyodorin piringnya ke MFT.
“Ih téh sama, aku juga gak akan abis.” Jawab MFT sambil nerima sodoran piring dari RY. Hahaha, hadoh katanya gak bakalan abis tapi malah nambah *tu anak kocaknya emang udah pentium 4*. Duh suer! Mau seperti apapun kondisinya, kalo udah gabung sama mereka suasana udah pasti wow. ASLI bikin geli perut *huahua*
Celotehan dan canda mereka gak bisa ditahan pake senyuman, harus pake ketawa *hahaha*. Tahu gak tahu gak? 2 piring yang kelebihan itu, akhirnya gak mubazir juga. Alhamdulillah disantap sama mereka, 1 piring disantap NR sama MIR, dan 1 piring lagi disantap Kang IR dan MFT. Ya Allah... seneng banget kalo udah liat mereka bahagia. Di luar sana sih Amang warung sih udah ngelus-ngelus dada ngucapin Alhamdulillah *entah dimana -_-*, karena porsi yang mereka kasih lebih itu akhirnya dibalikin juga pake uang, hahaha :D asli! Ini solidaritas tanpa batas membuat konsumen WARUNG NASI PADANG’ puas.
Alhamdulillah kenyang yeee. Cus deh kita langsung jalan nyari bis Primajasa. Bis pertama penuh, dan akhirnya kita naik bis yang kedua dengan durasi ngetem yang cukup lama.  Dari Maghrib sampe Isya gitulohh -_-
Alhamdulillah kursi bis masih kosong, kita pilih kursi belakang yang panjang, kita duduk disana tak terpisahkan! Ngobrol-ngobrol soal pengalaman seharian itu yang berhasil jadi mozaik terindah, dan RY yang lagi galau netesin air mata ke jendela, kembali menyeruak suasana bis Primajasa malam itu L MFT yang jadi pakar cinta dan NA sang konsultan cinta sedang berbagi surhat muncrat soal asmara yang bikin mumet kepala. Tengok ke kiri kanan depan belakang atas bawah, gila semua. Hahaha =D
Sempet pas bis udah otw, ada kejadian gila yang spektakuler tak karu-karuan. Aku sama MIR jailin pacar MFT dengan kata-kata super alay via SMS, berhasil bikin dia ke-GR-an banget. Wkwkwk =D Tahu gak tahu gak? Saat itu kita salah sasaran, pokoknya antiklimaks yang terjadi itu RAHASIA banget. Soalnya aku sama MIR berhasil bikin pacar MFT amuk-amukkan *hahaha =D* Hadoh ampuuunnn -_- Eh MFT nya woles-woles aja. Ya udah aku sama MIR pun watados juga *wkwkwk*
Malam itu suasana bis Primajasa di Cipularang gampang banget bikin aku ngantuk, ya meskipun kehalang tidur sama ocehan dan candaan mereka -_-. Badan capek, mana ujan, cuaca dingin, senderin kepala ke bahu RY yang empuk, jadi deh tidur *hahaha =D*
“Aduh, bau banget ini -_-“
Tiba-tiba bis gelap keluar asap, entah itu asap dari mana -_-. Bis sempet berhenti sebentar, terus pak sopir turun ngecek mobil. Tapi pas mesin mobilnya dicek, itu kata pak sopir gak kenapa-napa, mesin baik-baik aja, dan gak ada masalah sama sekali. Otomatis pak sopir sensi, nganggep hal tadi itu ngambur-ngamburin waktu aja turun di tengah jalan tanpa sebab, gak penting. *mungkin* tapi jelas-jelas aku liat sendiri, di dalem mobil itu penuh asap. Ada apa ya di KM 87 Cipularang itu? Hm, Wallahualam bis shawwab *abaikan!*
Kembali lagi ke bahu RY yang empuk, mata aku merem lagi alias tidur. Gak kerasa banget, beberapa menit kemudian udah nyampe Gerbang Tol Jatiluhur. Aku sama RY turun di Sasak Beusi. Nginep di rumah RY (seperti biasa). Nyampe rumahnya, mandi, sholat Isya, cus deh tidur ;) *subhanallah, kerasa banget capenya -_-*
Sedih banget, sebenernya hari itu momen yang paling indah, gak mau berakhir, pengen bareng-bareng terus sama kalian :’( Tapi apa daya? Waktu dan tempat telah membentengi kita untuk sementara -_- Semoga Allah Swt mempersatukan kita kembali, amiin
Dan pada hari Jumat, 14 Maret 2014. Pengumuman hasil tes interview (tahap kedua) Calon Kepengurusan FOJB Tahun 2014-2015 telah diumumkan J Mereka yang lolos pada tahap ini akan mengikuti LDKO suatu saat nanti, termasuk kita (kontingen Purwakarta) yang Alhamdulillah lolos semua pada tahap kedua ini. Tuh kan, rencana Allah emang indah. Rencana Allah siapa yang tahu? Semoga ini awal langkah kita untuk selalu bersama sampai akhir hayat, aamiin ;)
Terima kasih, pengalaman indah bersama kalian. Sejajaran orang-orang tergokil dan tergila, muah muah deh buat kalian :* ({}) []

@EkaFTRN