Jumat, 15 November 2013

"My First Love"



Sebenernya cerpen ini udah dibuat sekitar tahun 2012 tapi baru ada niat buat diposting ke blog ya sekarang. Ckckck, yang kepooo banget boleh baca kok ;)

P-A-C-A-R-A-N ? Yaaap “Pacaran” dieja, jadi : ‘Pé-a-pa-cé-a-ca-ér-a-ra-én’. Hahaha ~ ~ ~ suka tertawa juga sih kalo baca kata PACARAN ini. Tapi yang jelas, aku pun terlibat didalamnya. Wkwkwk :D | Mau tahu, gimana kisahnya aku dalam bercinta ? Yuah cekidottt ! ƪ˘)ʃƪ˘)ʃƪ˘)ʃ.
***
*Flash back* Sekitar dua tahun yang lalu tepatnya saat aku masih duduk di kelas 8 SMP, aku mengikuti lomba Pentas PAI se–kabupaten Purwakarta. Saat itu lomba PAI terbagi menjadi beberapa kategori, ada nasyid, cerdas cermat, saritilawah Al-Quran, ceramah/khutbah, dll. Nah, kebetulan banget tuh, pada saat itu aku jadi peserta lomba ceramah/khutbah. Seneng juga sih bisa jadi perwakilan dari SMP, *Hahaha :D*. Harapan aku ketika itu, mudah-mudahan aja di tempat perlombaan sana bisa ketemu ama temen-temen tempo dulu dan firasatku benar, ternyata eh ternyata ...
***
Aku dan crew SMPN 1 Wanayasa lainnya berangkat dari sekolah pagiiii sekali. Karena perjalanan dari sekolah ke tempat Pentas PAI itu lumayan jauh, bayangkan aja dari Wanayasa ke Purwakarta gituloohh ƪ(.“)┐‎. Ternyata, lebih tepatnya Pentas PAI ini dilaksanakan di Pendopo Purwakarta. Disana telah banyak peserta lain yang sudah datang, termasuk SMPN 1 Wanayasa dong *Tepuk tangan*. Sebelum pentas dimulai, kami sebagai peserta diberikan pembinaan, konsekuensi, dan ahhhh ... Banyak banget daaah pokoknya ~(‘’~) (~’’)~. Kesan pertama ikutan lomba ini, aku bisa melihat kembali wajah-wajah temanku tempo dulu ketika aku masih tinggal di Pasawahan *Nama daerah di Purwakarta*. Ya meskipun sebagian dari mereka aku lupa, tetapi setidaknya aku masih dapat melihat wajah familiar pada tampilan mereka. Yeeeaaahahaha :D *Skip story*.
***
Setelah aku tampil ceramah alias udah selese, aku diem tuh di Pendopo ama temen SMP. Tanpa disadari, saat aku berjalan kaki menuju masjid Agung bersama Jasmine dan Erni, aku melihat sesosok pria bertubuh tegap, membawa tas gendong alias ransel dan mengenakan pakaian khas sekolahnya. Tiba-tiba timbullah penasaranku : “Siapa dia ? Dia siapa ? Wajahnya begitu familiar saat kulihat pria bertubuh tegap nan hitam manis itu !” Ternyata, dia adalah seseorang yang berinisial “JA”, dia temen SD aku tempo dulu *Aku sensor namanya*. Di Pentas PAI ini, dia ikut lomba cerdas cermat. Seketika itu aku langsung bersalaman dan menyapa dia, bertanya tentang kabar dia dan bagaimana sekolah dia sekarang. Huhuhaha saat itu hatiku terasa berteriak kencang dan tak menentu. Kemudian dia langsung pergi ke masjid dan aku diam memperhatikannya, bak patung di jalanan sepi depan Pendopo. ƪ(.“)┐‎ƪ(.“)┐‎ƪ(.“)┐‎.
***
Setelah Pentas PAI selesai, peserta diberi waktu untuk beristirahat sekaligus menunggu hasil pengumuman, dan saat itu juga aku duduk termenung di tangga Pendopo. Tiba-tiba ehhh tiba-tiba, aku bertemu lagi dengan sesosok “JA”. Seneng banget rasanyaaaaa \(´`)/ \(´`)/ Lagian, siapa sih yang gak kenal ama “JA” ? Dia kan siswa yang berprestasi di sekolahnya dan banyak banget deh sikap-sikap positifnya *Hehehe*. Gak kerasa banget tuh waktu pas aku ama dia ngobrol sana sini dalam waktu yang lama, gak peduli orang laen bilang apa semau mereka *Termasuk temen sendiri yang ngecie-ciein aku pas lagi ngobrol ama “JA”, tapi yang penting aku bahagia bisa berbincang-bincang dengannya.
***
Saat hasil kejuaraan diumumkan, majulah peserta yang mendapat juara. Termasuk sekolah aku dong. Yaaa, meskipun lomba ceramahnya gak menang, tapi aku cukup bahagia karena temanku berhasil mewakili kejuaraan di kategori lomba lain J_L. Ketika itu itu aku duduk dengan teman SMP, dan saat itu pula aku gak tahu sesosok “JA” ada dimana. Tapi yang jelas pas aku duduk, aku gak ngeliat pria hitam manis itu. Malahan aku terlihat kacau bin galau karena aku gak dapet juara. Hmmm menyedihkan yaaa ƪ(.“)┐‎ƪ(.“)┐‎ƪ(.“)┐‎.
***
Waktu berjalan dan matahari pun perlahan-lahan menuju ufuk Baratnya, alias waktu udah sore. Sekitar pukul 16.30-an aku dan crew SMPN 1 Wanayasa lainnya pulang dengan membawa pengalaman, kenangan, dan tentunya membawa piala kejuaraan. Sebelum pulang aku sempat kecewa, kenapa Ibu Winarti dan Ibu Dodoh sang Pembina gak bawa kamera digital ? Padahal aku pengen banget mengabadikan stuck in the moment yang paling U.U ini *Lebay* ahhh sudahlaahh -____- Sedih banget tuh pas mau pulang, berpisah ama temen tempo dulu & sesosok “JA” tentunya. Bahkan yang lebih ngeness bin “nyérédét haté” tuh aku gak bisa ngomong apa-apa pas mau pulang, hanya bisa melempar senyuman pada pria hitam manis itu. Hmmm .TT.TT.
***
Detik, jam, hari, minggu, dan bulan. Dalam rotasi waktu tersebut, aku gak henti-hentinya komunikasian ama temen tempo dulu, termasuk seorang “JA” itu dong. Setiap hari aku selalu cerita, bercengkrama, dan berbagi kisah juga pengalaman *Termasuk ilmu* walaupun pake HP yang lebih tepatnya via Short Message Sending alias SMS. Hmmm, entahlah … Mengapa saat-saat itu aku merasa terhibur, hariku semakin berwarna semenjak ada sesosok “JA” yang selalu menemaniku via HP. “Ada apakah ini ?” Hingga saatnya ...
***
24 Juni 2011, sekitar pukul 21.30 Waktu Indonesia bagian Purwakarta eksklusifnya di Sukadami-Wanayasa, aku diberi pertanyaan dari seorang “JA” yang begitu sulit aku jawab. Aku terdiam dengan nadi yang berdegup kencang, merenung layaknya orang primitif yang tidak tahu apa-apa. Huuuuuuhhh, pokoknya perasaan aku gak menentu lahhh. Meningan ngerjain soal ulangan dah daripada ngejawab pertanyaan dari sang hitam manis itu. Pertanyaannya ituloh yang baru aku baca, baru aku dapet, dan baru aku terima. Masa pubertas aku sedang berkembang pesat nih *Batinku*. Bayangkan aja ! Pas malem itu, seorang “JA” kirim SMS yang isinya tentang kayak gitulah ... Layaknya cowok yang mau nembak cewek gituloh *Ana jujur* ƪ(.“)┐‎. Isi SMSnya tuh, yaaa pokoknya kayak gitu dehhh. Hmmm, aku deg-degan banget pas ditanya masalah kayak ginian alias asmara bin cinta bin perasaan *Puaaasss !?* “Kamu mau gak jadi pacar aku ?” *Wawww pertanyaan yang luar biassssaaa !* Rasanya pengen terbang ke luar angkasa sambil teriak “Ini bukan mimpiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii” *Lebay banget* ya jujur aja sih, pertanyaan kayak gituan tuh baru aku dapet dari seorang “JA”. Saat itu aku emang masih bloon bin labil dalam hal ‘DITEMBAK COWOK alias CINTA’. Tapi entah mengapa hati dan fikiranku terngiang-ngiang mengingat masa kecil saat masih berteman dengan dia. *Flashback* Ya emang sih, di usia 7 tahun itu aku baru anak kecil alias masih kelas 2 SD. Tapi aku ingat gimana sikap “JA”, karakternya dan pokoknya semua tentang “JA” ... Ya, meskipun tidak sepenuhnya aku tahu tentang dia, tapi aku percaya dan yakin, dia itu jauh dari kata “Anak Brandalan”. Bahkan, di usia 7 tahun pun aku menaruh perhatian dan perasaan yang berbeda pada dia *Cikiciwww*. Dia itu pintar, bisa disebut cerdas pula, aku paling suka kalo udah liat dia senyum, bersimpati ke sesama teman. Inget pas lagi berantem, aku ama dia suka saling menyalahkan *Anak kecil*, dia suka berbagi ilmu pada yang laen *Yaaa ... begitulah pokoknya*, aku sangat senang bisa kenal dengan seorang “JA”. Tapi sayangnya kalo dia udah ngambek alias marah, pasti emosinya keluar semua, dan berhasil buat orang laen ketakutan *Haha :D*. Tapi aku semakin tertarik pada dia meskipun pas kelas 3 SDnya aku pindah sekolah dan saat itu pula aku berpisah dengan seorang “JA”, sesosok pria idamanku *Etssss* ... Huhuhahaha ( ́_ ̀) Tapi apa daya semuanya ? Saat itu aku masih anak kecil yang belum tahu apa-apa soal perasaan, apalagi masalah cinta bin asmara hati *Teeettt* (˘˘)ε˘`)(˘˘)ε˘`) ˘)ε˘`)(˘˘)ε˘`).
***
*Yuuuaaaahhh, lanjutkan ceritanya*. Penasaran dong jawaban pertanyaan yang tadi ? Mau tahu juga kan apa dan gimana jawaban aku ? *Hahaha :D*. Semuanya akan aku ceritakan. Jadi gini nih yaaa ... *Next story*. Pertanyaan tadi kan “JA” kirim via Handphone alias SMS, sebelum menjawab pertanyaan itu aku sempet diam, termenung *Berfikir kritis* dan bernostalgia tentang yang tadi ituloohh ... Nah, ternyata eh ternyata waktuku habis dipake mikir, sedangkan pertanyaan itu belum dijawab sama sekali. Kan jadi gak efektif banget yaaa ? Sampe-sampe sekitar 3 SMS dengan isi yang sama “JA” kirim ulang ke NO aku *Mungkin dia khawatir dan aku merasa bersalah*. Tapi saat itu aku udah siap menjawab pertanyaan dahsyat darinya, walaupun aku telah menghabiskan waktu. *Hmmm ...* Atas keyakinan hati, perasaan dan fikiran *Fisabilillah kali ya* aku menjawab pertanyaan dia dengan penuh rasa deg-degan. Bismiillah, akhirnya aku langsung menjawab pertanyaan itu dengan : “Iya, aku bersedia” dan panjang banget daaahhh ... *Spontan banget yaaa* dan mulai saat itu aku menjadi pacar “JA” *Ehehehe*. Apa kata orang lain kalo mereka tahu, aku udah jawab pertanyaan kayak gitu alias udah punya pacar ? *Abaikan*. Tapi yang jelas, pacaran bagiku disini tuh bukan untuk arti yang ‘bertanda kutip besar di luar sana’ dan jujur aja, “JA” itu first love aku di usia 13 tahun. Mulai saat itu aku menjalani LDR alias Long Distance Relationship, karena aku dan dia berada di tempat yang berjauhan (Wanayasa-Pasawahan gituh -___-). Entah mengapa aku tak mudah mengaku aku jatuh cinta, mengatakan aku jatuh cinta kepada pria. Tetapi setelah mengenal sesosok “JA” hal itu menjadi mudah, dan tirakat perasaanku hanya untuk “JA”, dan tertuju pada “JA”. Syukur Alhamdulillah ya aku memiliki Someone or my boy friend’ seperti dia, sesosok pria kedua yang berkharisma setelah ayahku. “JA” itu orangnya penyabar, apalagi kalo aku salah, dia selalu membenarkan, semangat, pengertian *Wow, ehem !*, meskipun sikapnya yang tiba-tiba cuek, jutek dan sering buat aku jengkel tapi aku tetap sayang ama dia. Selain itu, “JA” adalah sesosok pria yang baik alias sholeh, pekerja keras, berprestasi, selalu bersemangat, dan pokoknya yang terbaik di “JA” itu ada *Meskipun manusia tidak ada yang sempurna*. Dari manakah aku tahu semuanya ? Ya aku emang tahu, dulu kan aku teman dia, semuanya aku tahu semenjak usia 7 tahun. Hingga saat ini pun, aku sangat salut kepadanya. Dia mampu membuat hatiku berwarna-warni, juga yang tak kalah pentingnya dia bisa mempertahankan prestasi dan kelebihannya *Subhanallah J*. Aku sempat merasa minder ama dia, bayangkan aja ! Kalo dipikir-pikir, mungkin IQ aku dengan “JA” itu berbeda jauh loohh, dia itu bisa dibilang jenius, tapi aku ? Mungkin katasebaliknya pantas tertuju pada diriku, pokoknya bagaikan langit dan bumi kalo dibandingin ama seorang pria hitam manis itu. Tapi bagaimana lagi ? (ˇ_ˇ")(ˇ_ˇ"). Semua manusia itu tidak ada yang sempurna, tapi aku ingin berusaha sempurna menjadi insan yang mulia. Aku pun memahami, aku hanya manusia biasa yang tidak bermateri, selalu dipandang sebelah mata, dan tak punya reputasi *Dari Bondan*. Harapan dalam hubungan aku dengan “JA”, semoga kita bisa saling melengkapi dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Bahkan aku selalu ingat dengan nasihat sahabatku, bahwa “Cinta itu buta, cinta tidak mengenal harta, fisik. Melainkan ketulusan hati dan kesetiaan dalam menjaga perasaan, juga sanggup menerima pasangan dengan apa adanya, bukan karena ada apanya.”
***
Waktu kian berganti, hubungan aku dengan “JA” pun masih berjalan. Tapi entah mengapa saat hubungan aku dengannya telah berjalan lima bulan alias lebih tepatnya pada bulan Oktober 2011 *Hmmm*, hubungan ini tuh terasa renggang dan komplikasi mulai terjadi. Aku mengaku, aku sering bersalah. Dalam hubungan saat itu aku masih labil, entah mengapa aku merasa sulit menjadi wanita terbaik di hati “JA”, mana kita berada dalam tempat yang berjauhan, kondisi yang berbeda, dan kita jarang sekali untuk bertemu, bertemu pun hanya pada event-event tertentu. Bahkan ada hal lain yang mencekam fikiranku, orang tuaku belum menyetujui aku berpacaran, apalagi kalo sampe berdua-duaan *Bahaya bangetttt*. Tapi aku sadar, aku bukan anak kecil lagi, dan aku pun bisa membedakan mana yang positif dan mana yang negatif. Lagipula hubungan aku ama “JA” saat itu dalam kondisi yang baik-baik aja, dan aku tahu karakter “JA” itu seperti apa, aku percaya dia pria baik yang sopan dan berkarakter. Lantas, mengapa pada bulan yang sama aku memutuskan dia ??? *Sebuah pertanyaan besar bagiku dan “JA”*.
***
Dibalik semua itu ada sesuatu hal yang berhasil memberontak fikiranku. Ternyata, pas aku mutusin “JA” itu hanya gara-gara hal sepele, masalah SMS doang. *Bayangkan, SMS doaaang !* Segimana parahnya tu SMS ? Hm, padahal isinya biasa aja, hanya sebuah kesalahpahaman yang tak sengaja tapi maknanya mengandung Hiperbola. Gak nyangka juga dibalik semua ini ada seseorang yang tahu masalah SMS itu, kemudian aku diintrogasi olehnya dan akhirnya “JA” ditelfon oleh seseorang itu. Karena saking kesalnya, aku sering berontak sendiri, merasa canggung kalo udah ngebahas masalah cinta, kadang pula aku merasa malu sendiri, pokoknya galau bin kacau banget, mana bentar lagi US 1, mana masalah ini selalu menghantui fikiran aku, dan ahhhh ... Banyak banget daaahhh gangguannya, *Gugup emang terasa, ini kan cinta pertama*. Maklum plus jujur aja, saat itu fikiranku soal cinta dan perasaan masih labil dan belum stabil alias belum dewasa *Huhu* ƪ(.“)┐‎, dan saat itu pula aku meminta “JA” untuk beristirahat sejenak dalam hubungan ini. *Hmmm, putus lagi deeehhh* (✖╭╮✖) (✖╭╮✖).
***
Rasanya pengen ketawa ngakak kalo mengingat pengalaman asmara saat itu. *Hahaha :D* Pengalaman kisahnya tentang hubungan aku dan “JA” yang diibaratkan aliran listrik yang putus nyambung putus nyambung alias ‘ngajeprét’ *Sunda*. Tahukan alasannya ? Ya itu tadi, fikiranku masih labil. Aku benar-benar tak habis fikir, mengapa dengan semudah itu aku memutuskan “JA” ? Padahal dia tidak bersalah, tapi aku sempat merasakan kejenuhan dan kejengkelan kalo dia udah mulai nyuekkin aku, sering buat aku badmood, sering ngutamain temennya, dan begitulah kesalahan manusia, termasuk aku yang masih kekanak-kanakkan dalam hal percintaan *Colouring is my feel*. Bahkan setelah aku memutuskan “JA”, aku gak ada niat dan maksud apapun untuk mencari pria lain. Malahan aku gak mau pacaran kalo cowok itu bukan “JA”, linglung kan fikiran aku ? *Astaghfirullah*. Jadi intinya : Saat itu aku masih mengharapkan seorang “JA” meskipun dia bukan pacar aku lagi. Aduh, bagaimana ini ? Ampuni hamba-Mu Ya Allah ... ( ́_ ̀).
***
Yaaahhh, begitulah hubungan aku dengan “JA”. Saat aku mutusin hubungan pacaran ama dia, aku berniat untuk fokus sekolah dan belajar, gak mau mikirin soal cinta bin asmara, yaaahhh intinya aku gak mau ngerasain galau. Tapi mana bisaaa dengan semudah itu aku ngelupain “JA” ? Semuanya nihil mustahil bin susaaahhh bangettt ... Aku gak bisa ngelupain dia sama sekali, dan jujur ! Ketika itu aku pengen balik lagi ke masa kecil yang belum tahu arti cinta bin asmara, gak pernah ngerasain kata ‘galau’, gak pernah kacau, dan layaknya seoorang anak kecil itu gimana sih ? Bahagia banget kalo dilihat ! Hmmm ... (ˇ_ˇ")(ˇ_ˇ") Setelah kejadian itu, aku sempat mengalami losed contact alias kehilangan komunikasi ama “JA” *Sedih sekali*, tapi semua itu sudah terbiasa aku jalani dengan kebimbangan hati *Wow !*.
***
Sekitar tiga bulan pasca putusnya aku ama "JA”, saat itu aku bener-bener jarang banget contact-an ama dia. Ternyata ada sebuah cerita unik di balik semua ini. Mau tahu kisahnya ? *Ok, next*. Saat itu aku emang bener-bener gak terlalu wow sama yang namanya HP. Jarang SMS-an lah, telfon-telfonan lah, tapi masalah social network internet (Facebook, Twitter) masih aku pake *Hahaha :D*. Intinya pas udah putus, aku jarang contact-an ama “JA”. Bahkan saat itu sempat ada beberapa SMS yang masuk ke HP aku, tapi aku gak tahu itu siapa, terus aku abaikan SMS-SMS itu. Ternyata eh ternyata ... Setelah aku baca dan perhatikan, isi SMS yang sering masuk ke HP aku itu passs ! Kena banget ke hati aku, pokoknya gue banget laaahhh. Tapi aku gak tahu orang yang ngeSMS itu siapa, bahasanya puitis banget, indah dibaca dan dipahami. Entah itu karya asli dari sang pengirim ataupun copas alias copy paste *Wallahu Alaam”, yang pasti hatiku sangat merasa tersentuh kalo baca SMSnya. Aku pun mulai penasaran, awalnya sih aku anggap ini hanya salah alamat alias salah kirim SMS aja. Tapi kalo sebabnya itu, mana mungkin si pengirim terus-terusan kirim SMS yang puitis dan seindah itu ? (^.^ ) (^.^ ). Ternyata eh ternyata, setelah itu ada SMS masuk dengan NO HP yang sama lagi, terus isi SMSnya kayak gini : “Gimana selama ini ? Udah berhasil nyari pengganti aku belum ?” Spontan banget tuh aku langsung ngomong : “Gak salah lagi, pasti ini JA”. Aku gak sanggup buat cari yang laen, aku pengen kamu *Batinku*. Hmmm ... Firasatku emang bener, tertuju pada seseorang yang masih aku harapkan di luar sana *Wow*. Ya Allah !!! Ampuuun daaahhh pas udah tau semua ini. Tengil banget aku, sering mengabaikan SMS-SMS darinya ! Kan itu suatu perbuatan yang sangat fuduuul yaaa (,) (,). Rasanya kalo diibaratkan layangan, aku pengen jadi layangannya supaya bisa terbang tinggi untuk melampiaskan perasaanku ini tanpa harus pake benang yang ngatur *???* Nah, begitu pun hal ini ... Rasanya pengen teriak kenceng ‘saking’ bahagianya aku pas tahu SMS-SMS itu dari seseorang yang masih aku sayaaang, aduuuh Ya Allah ... *Well, i am so excited*.
***
Karena kejadian itu, akhirnya aku dan “JA” mengalami proses evaluasi diri yang sangat menggemparkan jiwa dan perasaan *Emang pikir ini apaan, hahaha :D*. Aku sempat mengkhayal, aku sempat membayangkan, bagaimana rasanya kalo aku bisa jadi pacarnya “JA” lagi *All of shadow* ???!!! Jujur aja, aku gak bisa lupain dia, aku masih suka ama dia, aku masih sayang ama dia, tapi aku gak berani mengungkapkan semua itu ke seorang “JA”. Karena aku malu, dan aku juga harus bisa jaga image jadi seorang cewek *Harus !*. Tapi kan masa iya juga aku harus nembak cowok seorang “JA” ? Rasanya aku gak bakalan kuat, aku gak bakalan bisa, dan ahhhh ... Bimbang sekali hatiku saat ituuu (¬_¬")(¬_¬")(¬_¬") Hmmm ... Mungkin ‘menunggu’ adalah cara terbaik yang harus aku lakukan ˘)(˘˘)(˘˘), yaaa ... Siapa tahu aja dengan hati dan fikirannya, “JA” bisa kembali membuka hatinya untuk aku *Doaku, hehehe J*. Ternyata eeehhh ternyata ...
***
Yeeeaaahhh, malam tahun baru 2012 yang lalu aku ada di Bandung. Tentunya saat malam itu juga aku dapat kejutan yang luar biasa dari seorang “JA”, *Mau tahu kan ? hahaha :D*. Sebelum pergantian tahun, “JA” ngomong sesuatu ama aku. Dia pengen aku jawab pertanyaan dia ‘teng jam 12 malem’, dan itu tuh surprize yang spektakuler tak karuan banget buat aku. Tahu gak pertanyaannya kayak gimana ? *Hahaha :D*. Jadi gini nihhh ... Pertanyaan itu tuh pertanyaan yang aku tunggu-tunggu sebelumnya, so excited banget lah ekspresi aku saat itu (´`)(´`)(´`), “Aku pengen jujur, perasaan kamu ke aku sekarang itu kayak gimana ? Apa masih samakah seperti dulu ? Kalo boleh, aku pengen nanya ama kamu. Sebenernya ... (intinya dia nembak aku lagi dan saking gak kuatnya, aku gak tahan buat nyeritain ini semua *Haha*), dan kamu harus jawab pertanyaan aku teng jam 12 malem alias awal 01 Januari 2012. Hmmm ... Dikasih pertanyaan lagi nih *Gumamku* (˘˘). Saat itu aku ada di rumah sodara, dan belum sempet bales SMS dari dia. Tapi aku tahu apa yang harus aku jawab, dan jawabannya itu sudah tersedia disini nih *Nunjuk dada alias perasaan*. Aku emang masih sayang ama dia, gak bisa ngelupain dia, jadi aku gak salah kan ? Kalo aku ama dia masih sama-sama suka, terus dia nembak aku dan aku terima ? *Hmmm*. Satu kata yang aku mawaskan, aku ‘takut’. Bukan karena takut nerima dia lagi, tapi aku takut kejadian yang dulu terulang kembali. Yaaa ... Mudah-mudahan gak seperti itu lagi, alias kali ini aku dan dia bisa baik-baik aja *Amiin*. Pass teng jam 12 malem aku jawab tuh pertanyaan dia panjang lebar, ditemani suara petasan dan terompet menyambut awalnya 01 Januari 2012. Bentar lagi 08 Januari dong *Batinku, haha :D* Ada apa ya di 08 Januari ? *Flashback to me*.
***
Di tahun 2012 ini aku punya buuuanyaaaak kisah cinta dengan “JA”, bahagia yang luar biasalah, pernah ngerasain gimana kecewanya saat ada sesuatu hal yang berhasil buat aku ngurung di kamar, putus nyambung lagi lahhh ... Kemudian dua minggu sebelum Ujian Nasional aku pacaran lagi ama dia, dan ahhhh *Wé-o-wé banget kisahnya* ... Berwarna warni bagaikan pelangi. Terutama satu hal ini nih, hal yang begitu sulitnya aku terima ... Ketika UN selesai dilaksanakan, pendaftaran sekolah udah gak asing lagi jadi bahan rutinitas bidang pendidikan. Jelas ada kaitannya dengan aku dan “JA”, kita berdua termasuk objek penting dalam masalah ini, alias harus milih sekolah. Ternyata dalam moment itu berhasil membuat keadaan jadi semraut, termasuk yang aku alami *Eeehhh*. Ketika mendengar keputusan dari “JA”, aku langsung termenung, perasaanku tak menentu, batinku nyeri, dan bulu romaku terus mengusik seakan-akan neuron sensorik meneruskan impuls-impuls sarafnya. *Wow !* Keputusan apakah itu ??? (`O´) (`O´) (`O´).
***
‘SMAN 1 CISARUA BANDUNG BARAT’ sekaligus jadi siswa asrama di ‘BINA SISWA SMA PLUS’ tersebut *Google*. Patut bernadzar dan mengucapkan beribu-ribu syukur kepada Allah SWT kalo lolos testing jalur beasiswa terus sukses jadi siswa asrama di sekolah itu *Wow* ... Hmmm, hal ini sangat ada kaitannya dengan seorang “JA”. Dia berhasil dan lolos masuk sekolah itu. Bayangkan aja ! Mungkin dari sekian ribu peserta testing, dia sukses jadi siswa asrama yang serba ber-beasiswa disana *Alhamdulillah* ... Awalnya dia daftar ke dua sekolah tapi yang dipilih ya itu tadi, nama sekolah diatas itu *Curcol*. Aku pun turut berbahagia ketika mengetahui hal ini, tapi dibalik semuanya ada risiko yang harus ditanggung. Bayangkan aja RISIKO ! Peraturan di asrama itu ketat bangeeettt (^.^)(^.^)(^.^) *Katanya* ... Banyak sekali ketentuan-ketentuan yang wajib ditaati, salah satunya barang elektronik. Siswa asrama dilarang keras untuk membawa HP, dan hal ini tuh berhasil buat aku ngurung di kamar (_). Kalo kayak gitu caranya, otomatis kan aku ama dia bakalan jarang komunikasi, jarang ngasih kabar, atau bisa-bisa losed contact. *Tapi semoga aja jangaaannn sampe kayak gitu ... (batinku)*. Selain itu kalo “JA” udah mulai sekolah disana, dia bakalan jarang pulang alias acara pulang kampung ke Purwakarta itu hanya moment-moment tertentu. Kayak Lebaran Idul Fitri lahhh, libur semester lahhh, dan itu semua dalam jangka waktu yang lama. Rasanya pengen lari dari kenyataan ini, mana jarang ketemu, LDR yang asal jaraknya dari Pasawahan-Wanayasa jadi Purwakarta-Bandung. Mengelus dada sambil meneteskan air mata pun rasanya tak cukup untuk melampiaskan perasaanku. Jujur aja ! Saat itu jiwaku lain di mulut lain di hati, aku pura-pura menganggap hal ini biasa aja, tapi ternyata batinku sangat nyeri. Bukannya aku iri karena dia berhasil sekolah di sana, bukan pula aku takut kehilangan dia alias seling...’tetttt’, tapi aku emang gak sanggup kalo harus kayak gini, ngadepin LDR plus diiringi jarangnya komunikasi. *Sabar Eka, sabar ! Hirup mah peurih* ( ́_ ̀).
***
Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menerima dengan lapang dada akan hal ini. Ternyata bener yahhh apa yang aku renungkan selama ini03 Juli 2012 itu penuh sejarah banget buat aku. Awal ditinggal “JA” pergi ke asramanya di Bandung dan saat itu pula batinku serasa ditusuk-tusuk jarum kasur yang super jumbo *Hiperbola kaliii*. Entah berapa ribu tetesan air mata yang mengalir, semuanya aku lampiaskan di dalam kamar *Lebay*. Raut mukaku yang jutek, galau, cemberut, kalo ditanya temen kadang tulalit, aku lampiaskan saat itu. Tapi sebenarnya semua itu bukan maksud pelampiasanku, mungkin pengaruh hormon tubuhku yang kerap terbawa emosi *Hmm*. Temen-temen udah paham betul kalo aku udah kayak gini, mereka pasti sengaja buat ‘piomongeun’ supaya aku gak diem terus, selalu ada diantara mereka yang spontan nyindir-nyindir aku : “Ada yang galau karena cinta euuuy ...”, terus ada juga yang ngomong dengan pengkhayatannya di depan banyak orang ketika aku duduk di depan kelas sambil makan ‘lemper’ buatan ‘bi Ening’ : “Aduuuh, aku sedih nih ditinggal pacar tercinta ke Bandung, LDR-an pula, hiks hiks hiks ( ́_ ̀) ...” Spontan banget aku kaget plus keselek denger tu anak ngomong kayak gitu. Dia tahu dari mana cobaaa ? Bisulan siaaahhh Adhen *Teriakku* ! Ya, dia namanya Adhen alias Adhitya, temen yang paling songong di SMP. Aku paling kesel kalo udah disépét plus dibully soal cinta bin asmara ama dia. Rese banget kaaan ? Saking keukeuh dan gak maunya aku ngasih tahu dia siapa nama “JA” sebenarnya, dia spontan buat nama panggilan seenaknya. ‘Juned’ Yup, JUNED ! Nama panggilan “JA” menurut dia, dan saat itu tuh aku pengen jitak kepala dia abis-abisan sampe botak. Akhirnya aku panggil pula dia dengan panggilan JENONG. Yup ... Nama panggilan ini sesuai dengan fakta yang ada, yaitu kening dia yang begitu luas plus bisa memantulkan cahaya. Huhhhh (˛)! Ada lagi tingkah lakunya si Ridwan yang so pengen jadi pusat perhatian. Aneh banget tu anak ! Kalo lagi ngomong ama aku pasti tangannya gak bisa diem *Gugup kali yaaa (´ー`)*, dan sumpah tu anak lebay nya minta ampun ... Kadang suasana jadi semraut gara-gara kegombalannya, dan kalo udah kayak gini aku selalu teriak : “TERUS, MASALAH BUAT LOH ?!” Selain itu, ada pula temen sekelas atopun bukan yang nanya ke aku : “Kamu kenapa Ka ? Ayooo dong cerita sama aku, aku siap kok jadi audience setia kamu !” Tapi sayangnya, kadang aku kurang srek kalo harus cerita ke temen, apalagi mereka bukan siapa-siapanya “JA”. Bukan berarti aku mengacuh dan menghiraukan temanku itu, tapi aku kurang merasa nyaman aja. Yaaa intinya aku gak sembarang curhat ke temen, kecuali mereka yang bisa dipercaya dan mampu memberikan solusi terbaik buat aku. Tapi jujur aja ! Tempat segala curahan hati dan keluh kesahku hanya ada di sahabat-sahabat aku, terus kalo aku udah gak sanggup buat cerita ke mereka, pasti DIARY jadi tujuan utamaku J *That was skip story* (◠‿◠) (◠‿◠)(◠‿◠).
***
Waktu terus berlalu, dan “JA” pun sudah menetap disana menjadi keluarga besar Bina Siswa SMA Plus dan SMAN 1 Cisarua. Sempat terfikirkan olehku, di tempat dia beradaptasi sekarang mungkin banyak wanita-wanita cantik yang lebih sempurna daripada aku. Baik dari segi akhlaknya, intelektualnya, dan fisiknya. Aku pun sempat merasa takut ketika berfikir seperti itu, takut jikalau seorang “JA” dengan mudahnya melupakan aku dan menemukan pilihan hatinya yang baru disana. Tapi apa daya ? Aku gak bisa berbuat apa-apa, hanya Allah yang tahu bagaimana karakter “JA” sebenarnya. Bukan berarti aku tak bisa mempercayai janji yang diucapkan “JA” padaku, tapi aku lebih memasrahkannya kepada Yang Maha Kuasa, semoga Allah selalu menjaga apa-apa yang pernah diberikan “JA” kepadaku *Termasuk 2 gelang kembar itu J*. Aku pun harus bisa seperti ibu dalam bercinta, yang sekali untuk selamanya *Aamiin, hehe :D*˘). Meskipun aku dan “JA” terpisah jarak dan waktu, tapi aku tetap yakin dengan sebait lagu yang dinyanyikan Melly Goeslaw : “Jika teringat tentang dikau, jauh di mata dekat di hati ...” Meskipun aku mempunyai sahabat lelaki yang super gokil, solider, dan selalu memberikan nasihat yang kadang abal-abalan, tapi perasaanku tak pernah berpaling kepada pria manapun selain “JA”. Aku berharap, semoga “JA” bisa menjaga perasaannya padaku seperti aku menjaga perasaanku padanya. Selama hal yang dilakukannya merupakan hal yang terbaik untuknya, aku akan selalu mendukung dia dimanapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun, termasuk cintaku. Aku mencintai “JA” bukan karena materi ataupun fisik  yang ada dalam dirinya, tapi sebuah karakter “JA” yang selalu memberiku warna dan motivasi hidup. Yang terpenting untuk aku dan “JA” sekarang, fokus dan tetap melihat masa depan, hilangkan kotoran-kotoran akhlak yang dapat menyebabkan kesesatan. Semoga Allah senantiasa menjaga keyakinan hati ini, dan apabila Engkau berkehendak, jadikanlah aku sebagai pemilik tulang rusuknya “JA”, *Amiin*.
***
Aku ingin “JA” bisa merubah kebiasaannya yang ini nih : Lebih mementingkan temannya dibanding aku. Bukannya aku iri ataupun cemburu karena dia bisa dekat dan bersolidaritas tinggi dengan temannya , aku pun tahu “JA” itu lebih lama dekat dengan temannya dibanding dekat dengan aku, tapi seenggaknya dia bisa membagi dan menghargai waktu, mana waktu buat aku dan mana waktu buat mereka. Apalagi sekarang “JA” udah tinggal di Bandung, sekalipun dia pulang ke Purwakarta kan hanya untuk sementara dalam event-event tertentu alias waktunya cuma bentar. Sedangkan disini, aku menunggu kedatangannya dari sekian waktu yang lama itu. Semoga dia sadar bahwa perbuatannya itu kerap membuat jiwaku perih dan sakit bak diterjang ombak. Walaupun aku sering kesal dengan perbuatannya, tetapi hati ini tidak berbohong, hati ini tidak berubah, dia tetap ‘separuh aku’.
***
Yaaaaaaaaaaa ... Itulah aku dalam bercinta, pengembaraan asmara dan interaksi sang hati. Tak terbendung asa untuk mengungkapkan hal yang berlika-liku bak ular naga yang panjangnya bukan kepalang. Semoga bermanfaat, thanks for attention J
.
“Cinta selalu memberi bahagia dan sakit di hatimu. Bahagia karena bersama yang kamu cinta. Sakit karena tahu bahwa kamu begitu rapuh. Terkadang meski telah terluka, kamu memilih tuk tetap bertahan dengan harapan dia yang kamu cinta akan berubah, dan akhirnya tulus mencintaimu. Cinta memang mampu membuat seseorang menunggu lama. Tapi kadang kamu harus mencintai dirimu juga, dengan menyadari kapan waktunya untuk pergi.”

 -END-

 Kisah ini aku persembahkan untuk “My First Love”, pria sejati yang hebat dan berkarakter, untukmu yang ‘dulu’ teman kecilku : Jaeni Aripin, 13 Mei 1997.

27 November - 17 Desember 2012.
Oleh : Eka Fitriani®